
Banyak penggemar sepakbola menyebut kompetisi Bundesliga musim ini terasa membosankan. Tak ada kejutan yang terjadi di kompetisi Liga Jerman itu.
Seperti musim-musim sebelumnya, Bayern Munchen tetap kokoh di puncak klasemen tanpa mengalami satu kali pun kekalahan. Sejauh ini, skuat Pep Gaurdiola itu sudah meraih 11 pertandingan dan tiga hasil imbang, tanpa sekalipun merasakan kekalahan. Bayern benar-benar digdaya. Tak ada klub lain yang mampu mempecundangi mereka.
Karena itulah pelatih Augsburg,
Markuz Weinzierl, tak terlalu berharap banyak ketika timnya menjamu Munchen di SGL Arena, Sabtu (13/12) malam. Menurut Weinzierl, jika timnya menelan kekalahan di kandang sendiri, itu bukan hal menyejutkan dan tak perlu diratapi. “Kalau Bayern menang, itu normal,” ucapnya dilansir dari
Islandpacket.
Meski demikian, Weinzierl pantang menyerah sebelum pertandingan. Ia tetap memberikan arahan kepada anak asuhnya untuk berjuang habis-habisan menghadapi klub raksasa Jerman tersebut. Weinzierl berjanji tak akan memberikan kemenangan dengan mudah.
Menurut Weinzierl, para pemain Bayern harus merasakan kokohnya pertahanan Augsburg, yang siap memberikan benturan-benturan yang sangat menyakitkan. “Kami akan melakukan apa saja untuk itu. Kami juga mengkreasikan sensasi yang lain,” lanjutnya menebar ancaman.
Para pemain Bayern sendiri juga tak boleh menganggap enteng Augsburg. Dengan posisi di peringkat ketiga klasemen Bundesliga dengan 24 angka, Augsburg membuktikan bahwa mereka bukanlah tim kacangan.
Untuk mencapai posisi tersebut, Augsburg memenangkan empat pertandingan beruntun. Dampaknya sangat kentara. Mereka mengangkangi Bayer Leverkusen, Schalke 04, Hoffenhaim, dan Borrusia M’gladbach.
Mentalitas para pemain Augsburg juga sedang bagus-bagusnya. Pelahan tapi pasti mereka terus mengalami perkembangan yang patut membuat siapapun lawannya tak bisa memandang sebelah mata.
Meski demikian, Weinzierl juga mengenal Bayern dengan sangat dalam. Pria berusia 39 tahun itu pernah berstatus pemain cadangan di sana selama empat musim di era 1900-an.
Berdasarkan pengalamannya, Weinzierl mengetahui bahwa Bayern adalah tim yang memiliki mental dan semangat bertanding sangat besar. Para pemainnya dilatih dan dibentuk untuk menjadi juara. Kehadiran Pep sebagai pelatih membuat Bayern semakin kuat dan berbahaya.
Taktik, semangat, mental bertanding, ditambah bermain di hadapan publik sendiri, lanjut dia, tak akan cukup sebagai modal untuk menghancurkan Munchen. “Saya kira untuk meraih kemenangan atau seri melawan Munchen membutuhkan keberuntungan. Kami harus bekerja di atas kemampuan kami. Sementara Munchen bermain di bawah level permainan terbaiknya,” terang Weinzierl.
Bayern menjadi unggulan meraih kemenangan di laga tersebut. Secara kualitas pemainnya berada di atas rata-rata. Pun demikian jika dibandingkan dengan pengalaman yang mereka dapatkan dari rangkaian kompetisi yang mereka mainkan.
Tak ada yang meragukan Thomas Muller, Frank Ribery, Robert, Mario Gotze, Arjen Robben, dan Robert Lewandowski. Kemudian di lini belakang ada Alaba, Boateng, Philipp Lamp, Sebastian Rode, dan Rafinha. Komposisi pemain di setiap lini sangat lengkap.
Posted By :